Selasa, 14 Februari 2017

Sesak Hati Pohon Willow - Part 4


Di mana aku ?” sepertinya tadi aku benar – benar pingsan, ataukah aku hanya ketiduran. “Sekilas tadi aku melihat makhluk yang menakutkan, apa cuma mimpi ?”. Kutegakkan badanku, kubangunkan dari rebahanku. Kuperiksa tubuhku, ternyata masih utuh. Haha.
Sudah bangun ?” sebuah suara serak lantang mengagetkanku. Kutengok sebelah kanan, asal suara itu. Betapa kagetnya aku, sesosok makhluk besar tengah duduk di sampingku. Besar sekali. Ternyata bukan mimpi. Tingginya mungkin sekitar 5 meter. Dia terbuat dari kayu. Mungkin bangsa Ent. Seperti di cerita mitos, yaitu makhluk hutan yang berwujud pohon. Wajahnya agak menyeramkan. Berjenggot, dan terlihat tua.
Siapa kau ?” tanyaku sedikit ketakutan.
Namaku Ern Willow.” Jawabnya. “Maaf jika menakutkanmu. Sebenarnya apa yang kau cari di hutan ini ? wahai manusia perusak alam.”
Apa maksudmu dengan perusak alam ? Aku bukanlah perusak, aku ke sini hanya ingin mengetahui asal auman yang selalu kudengar setiap hari dan misteri hutan ini.”
Semua manusia itu sama saja. Tidak bisa menghargai alam. Untuk apa aku percaya padamu.”
Ku mohon percayalah, aku ke sini, masuk hutan ini dan membahayakan diriku, hanya karena ingin menjawab semua pertanyaanku yang selama ini menghantui. Ku mohon percayalah.” Aku berusaha meyakinkannya. Kami saling bertatapan. Mata besarnya yang berwarna kuning itu seperti masih menatap sebuah keraguan. Apa yang menyebabkannya seperti itu ? apa yang telah diperbuat manusia terhadapnya ?.
Baiklah kalau begitu.” Sepertinya dia percaya. “Lihatlah ke sana.” Tangan besarnya menunjuk ke sesuatu. Kuarahkan saja langsung pandanganku ke arah yang ditunjuknya.
Wow, indah sekali.” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Betapa menakjubkannya yang kulihat. Sejauh mata memandang, di depanku, ada danau yang begitu luas. Di sekelilingnya terdapat muara yang mengarah ke sungai – sungai yang mengalir ke seluruh penjuru hutan. Mungkin danau ini adalah pusatnya. Sungguh menakjubkan.
Di tengah – tengah danau ini terdapat pohon yang besar sekali. Rantingnya tumbuh menjalar sekeliling danau yang menyebabkan lebatnya dedaunan melindungi danau itu dari sinar matahari. Dasar danaunya bukan tanah ataupun akar, melainkan hitam pekat.
Danau apakah ini ? kenapa tidak terlihat dasar danaunya ?” tanyaku pada Ern.
Ini adalah Danau Harapan.” Jawabnya. “Danau inilah yang menjadi pusat energi hutan ini. Dan pohon itu, adalah Pohon Kehidupan. Jantung Hutan. Pohon yang menopang kehidupan hutan. Disebut juga sebagai Elder Willow. Dasar danau ini tidak berdasar. Di bawah genangan air ini yang ada hanyalah ruang hampa. Sekali kau jatuh maka kau akan mati. Dan auman yang kau tanyakan itu, sebenarnya bukanlah berasal dari hewan ataupun bangsaku, bangsa Ent. Melainkan dari angin yang berasal dari ruang hampa itu.”
Angin ? dari ruang hampa ? bagaimana bisa ? angin itu tidak bisa menembus partikel padat. Termasuk air.”
Memang tidak masuk akal, terserah kalau tidak percaya, tapi memang begitu adanya. Coba lihat, danau itu mulai bergemericik, sebentar lagi akan terjadi angin hembusan. Sebaiknya kau berpegang pada akar – akar itu atau padaku. Jika tak ingin terbang.” Kuperhatikan permukaan air, memang sedang bergemericik.
Semakin keras saja. Seperti ada yang mendorong mereka. Tiba – tiba angin kencang datang dari bawah danau. Itu benar, dan air tidak ada yang terangkat sedikit pun. Selang beberapa detik kemudian angin itu berhembus menyebar. Termasuk ke arahku. Aku hampir terbawa hingga terbang, untung saja aku segera berpegangan pada Ern. Bersamaan dengan itu, suara auman itu juga muncul, bahkan lebih, lebih, dan lebih keras dari sebelumnya. Telingaku sampai hampir sakit.
Ini adalah suara kesedihan hutan.” Tukasnya dengan wajah sedikit murung.
Kesedihan ?” sahutku “Kenapa kau bisa mengatakan seperti itu ?”
Ini semua karena manusia. Mereka selalu merusak alam, tak peduli apapun itu. Hutan, sungai, laut, pegunungan dan panorama alam lainnya. Penebangan liar mereka lakukan. Sampah di sungai juga tak terhitung. Limbah di lautan juga berliter – liter. Apakah kalian tidak memikirkan perasaan alam ini ? Alam yang senantiasa memberikan kalian sumber kehidupan.”
Sebegitu bencikah kau terhadap manusia ?”
Iya, karena ulah kalian, kami juga menderita, bahkan lebih menderita. Penebangan hutan menyebabkan kebakaran yang juga membakar keturunan kami. Tanah longsor yang menghancurkan tempat kami berpijak. Sampah juga akan menyebabkan banjir di mana – mana. Yang juga bisa menghancurkan masa depan jenis kalian. Dan ketika alam sudah rusak, kalian para manusia pasti akan mengeluh kepada Tuhan. Apakah KALIAN tidak punya rasa TERIMA KASIH ataupun PENYESALAN ?!?” perkataannya menusukku sebagai manusia.
Saat alam mulai marah,” dia melanjutkan, “Tiada dari kalian yang dapat menghentikannya. Tiada dari kalian yang sanggup menghadapinya. Ini adalah hukuman. Hukuman.” Ocehannya terhenti. Sejenak suasana menjadi hening. Semua pernyataannya menjadi renunganku.
Kami para manusia, “ sahutku, “Memang sangat bergantung kepada alam. Tanpa kalian, kami tidak akan pernah bisa hidup. Berkat kalian, kami bisa hidup hingga abad ini. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, Terima Kasih.
Memang, beberapa dari kami, lebih mementingkan keserakahan dan keegoisannya serta tak memperhatikan alam sama sekali. Namun, itu hanya sebagian kecil dan tidak semuanya.”
Itulah kenapa aku benci manusia. Dan sampai kapanpun, kalian tidak akan pernah berubah. Mungkin kau memang orang baik, tapi apakah dengan kebaikanmu saja bisa mengubah semua keburukan manusia di dunia ? Mustahil.” Perkataannya membuatku diam. “Belum tentu seseorang dengan moral mulia dapat mengubah moral seseorang 180 derajat. Itulah yang kupahami tentang manusia. Oleh sebab itu aku harus melindungi hutan ini.”
Aku baru mengerti. Itulah rasa bencimu terhadap kami. Sudah jelas semua sekarang.” Begitulah pikirku. Semua pertanyaanku sepertinya sudah terjawab. Hutan ini menyimpan kesedihan dan kepedihan alam, yang mana itu disebabkan oleh kita, manusia.
Kau harus segera meniggalkan hutan ini.” Perkataannya memecahkan lamunanku.
Pergi ? sekarang ?”
Benar”
Apakah aku bisa bertemu denganmu lagi ?”
Tidak, dan takkan pernah. Karena ini akan menjadi kunjungan terakhirmu.”
Apa kau tidak khawatir aku akan membocorkan rahasia hutan ini ?”
Tidak, karena aku tahu kau bukan orang yang seperti itu.” Aku tersenyum, karena sepertinya dia percaya padaku.
Sekarang pejamkan matamu.”
Tunggu, satu pertanyaan lagi.” Kuhentikan yang akan dilakukannya.
Baiklah, apa ?”
3 tahun silam, ada sekelompok penebang kayu yang memasuki hutan. Dan sejak saat itu mereka menghilang sampai saat ini. Apakah mereka dimakan binatang buas hutan ini atau bangsa kalian menyerang mereka ?”
Hmm. Inilah manusia, penuh kecurigaan terhadap alam. Pertama – tama, kami bukanlah bangsa barbar seperti kalian.” Jawabnya, “Kami tidak akan menyerang siapapun, termasuk manusia. Kedua, di sini sama sekali tidak ada binatangnya, meski ini adalah hutan. Dan para penebang itu meninggal karena tersesat dan kelaparan. Jasad mereka terkubur di bawah tumpukan akar pepohonan.”
Tak bisa dipercaya, jadi seperti itu” terangku, “Ternyata kalian memang makhluk yang baik, Ern. Baiklah, kalau memang aku harus pergi, inilah saatnya. Selamat tinggal. Sejujurnya aku masih ingin bertemu denganmu lagi.”
Itulah hal terakhir perbincangan antara kami berdua. Kupejamkan mataku sesuai permintaannya. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Tiba – tiba berhembus semilir angin dari arah samping. Selang beberapa detik kemudian kubuka kedua mataku. Aku melihat sesuatu yang tidak asing lagi. Tembok pembatas abu – abu. Ternyata aku sudah berada di luar hutan. Menoleh ke belakang, hanya gelap yang terlihat. Hatiku cukup lega, karena berhasil keluar hutan dengan selamat. Kuharap aku bisa bertemu dengannya lagi, Ern Willow. Dia adalah sosok pemerhati alam sejati.
Matahari juga mulai menutup hari, mengiringi langkahku menutup petualangan hari ini. Tak terasa ternyata sudah sore dan hari mulai petang. Angin berhembus bersama keinginannya. Menyisir padang gersang ini dan menerbangkan debu emasnya. Yang kuharap juga turut menerbangkan keserakahan manusia. Hingga alam tak marah lagi. Dan yang tersisa kini hanya sepi dan sunyi.
Bunga kecil jingga melambai, bersama kesedihan dan kepedihannya...

SELESAI
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar