Selasa, 14 Februari 2017

Sesak Hati Pohon Willow - Part 3


Pagi telah datang kembali. Angin pagi ini pun juga masih semilir kencang dan semakin kencang. Setiap harinya, aku tak bisa lepas memikirkan hutan itu. Dan hari ini kusigapkan hatiku dan seluruh jiwaku untuk menelisik hutan lebat tersebut. Aku sudah tak peduli bahaya apa yang akan kutemui. Peralatan, bekal dan segala persiapan sudah kusiapkan dengan matang. Kini saatnya bagiku menguak misteri pedalaman Hutan Lebat Raksasa.
Masih pagi buta.” Gumamku saat melihat jam tanganku ternyata masih menunjukkan sekitar habis subuh. Aku memang sengaja pergi di jam segitu supaya tidak ada orang yang tahu. Langsung ku pergi menuju dinding belakang rumah. Cukup tinggi memang. Kira – kira sekitar 5 meter. Warnanya abu – abu pucat.
Kulemparkan tali ke atas dinding. 3 kali gagal dan berhasil di percobaan keempat. Kait-nya menyangkut di sesuatu. Tanpa melihat jam, aku langsung memanjat dinding dengan cepat, bak tupai. Beberapa menit kemudian sampailah aku di atas dinding. Lumayan tinggi juga. Aku melihat ke bawah, belakangku ada tanah pekarangan rumah, depanku ada tanah kuning padang gersang. Kenapa tanahnya kuning ? apakah begitu sangat gersang ? Tak kupedulikan. Segera kugulung talinya dan kupasang untuk jalanku turun.
Setelah berhasil mendarat di tanah dan menggulung tali itu, kulanjutkan perjalananku menuju ke hutan. Tanah padang ini cukup gersang, kering dan keras sekali. Warnanya kuning pucat. Sepertinya tanah ini mengandung kesedihan dan kekecewaan yang begitu dalam. Hingga air mata mereka habis dan akhirnya mengering pucat. Kulihat padang sekelilingku, semuanya sama. Sejauh mata memandang hanya tanah kuning kering terlihat dan hamparan hijau lebat hutan. Mulut hutan masih tampak jauh. Entah sudah beberapa langkah kakiku. Tak kuhitung.
10 langkah lagi aku sampai di mulut hutan. Sekitar 45 menit sudah aku sampai di mulut hutan. Dari dekat ternyata hutan ini tampak menakutkan. Pohonnya besar – besar. Tingginya kira – kira sekitar 20 meter lebih. Diameternya benar, lebih dari 2 meter. Dan kulit kayunya hijau gelap berlumut. Tebal sekali lumutnya. Daunnya juga begitu lebat, aku sampai tak melihat ujung – ujung dedaunan masing – masing pohon. Sejauh aku memandang ke dalam hutan, yang kulihat hanyalah kegelapan.
Aku masih berdiri di mulut hutan. Kakiku serasa tak mau melangkah masuk. Masih teringat diriku mengenai perkataan Pak Jaka bahwa teman – temannya menghilang saat mencoba memasuki hutan ini. Dalam hatiku masih merasa khawatir. Benarkah tidak apa – apa ? Apakah aku akan selamat ? ataukah ikut menghilang seperti penebang hutan 3 tahun silam ?. Pertanyaan – pertanyaan itu terus menggerogoti keinginanku. Kumantapkan saja hatiku untuk maju dan mendorong kaki ini untuk memasukki hutan. Mengenai hal yang selanjutnya terjadi pikirkan nanti saja.
Gelapnya.....” gumamku menatap hutan.
Kunyalakan lampu senterku. Kakiku mulai melangkah masuk menelusuri hutan. Menakutkan sekali. Sekelilingku yang terlihat hanyalah pohon dan pohon. Tanahnya lumayan gembur, karena humus mungkin. Akarnya juga besar sekali. Semakin dalam aku memasuki hutan juga hanya pohon Willow yang terlihat. Apakah di hutan ini tidak ada hewan buas satu pun ?. Karena aneh menurutku, di hutan semenyeramkan ini tak ada hewan apapun.
Semakin dalam aku menelusuri hutan. Semakin gelap pula jalan yang kutempuh. Lebatnya dedaunan menghalangi sinar matahari masuk menelisik hutan. Kuperhatikan sekeliling juga masih sama. Gelap. Yang kutahu, akar – akar pepohonan ini menjalar masuk jauh ke dalam hutan. Semuanya mengarah ke satu arah. Semua akar pepohonan ini. Akar inilah yang menuntunku masuk menuju hutan. Kutengok ke belakang, sudah gelap, dan di depan pun juga masih gelap. Tak lama kemudian tanahnya mulai becek, berair, sepertinya di depan ada sumber air. Aku bergegas melangkah maju menelusuri arah akar pepohonan. Dan tak bisa kubayangkan, tak bisa kuungkapkan apa yang aku lihat. Sebuah sungai membentang luas memanjang. Lebarnya mungkin sekitar 10 meter.
Tak percaya ada sungai yang begitu luas di tengah hutan. Dedaunan pohon di sini menutupinya dari cahaya matahari, sehingga mungkin sungai ini tak dapat terlihat dari udara. Tapi anehnya, meski tiada cahaya, sungai ini tampak begitu jernih. Kupikir, sungai ini sangat dalam. Karena aku tak melihat tanah di dasar sungainya. Hanya sekumpulan akar pohon yang saling berkaitan. Sungai itu begitu jernih dan bening, sampai dapat memperlihatkan warna hijau dari akar pohon. Rasanya pun begitu segar saat mencicipinya. Kuhentikan sejenak perjalananku di tepi sungai. Sejenak melepas lelah, dan menghilangkan rasa lapar.
Mungkin ini penyebabnya.” Gumamku sendirian. “Sungai inilah yang menyuplai air untuk pohon – pohon di hutan ini. Di samping mendapat cahaya matahari dan unsur hara, mereka juga mendapat kesegaran serta nutrisi mineral dari sungai ini. Sepertinya sungai ini sudah terbentuk sejak beberapa ratus tahun silam, terlihat dari akar – akar pohon ini. Tapi, kenapa panorama seindah ini menjadi hal yang menakutkan ? Hmm...” aku melihat sekeliling.”Dan tiada satu jejak pun mengenai tanda – tanda manusia pernah ke sini.”
Tiba – tiba angin berhembus kencang. Aku sampai hampir ambruk. Rambutku berantakan dan makananku terbang ke mana – mana. Bersamaan dengan itu juga, suara auman itu muncul. ‘Aaaaarrrrrghhhh......’ kira – kira seperti itu. Datangnya dari sebelah kananku. Suaranya sangat keras dan jelas sekali. Sebenarnya suara apa itu. Atau suara siapakah itu sebenarnya. Kubereskan semua perbekalanku. Ingin kucari sumber suara itu. Aku bergegas. Namun, saat ku berbalik badan, ada batang pohon berdiri di belakangku. Seingatku tadi di belakang tidak ada apa – apa. Apa pohon ini berjalan, kuperhatikan seksama, batang pohon ini tidak sebesar pohon yang lainnya. Dia tampak berbeda dan warnanya agak terang, meski tidak bisa dibilang hijau muda. Akarnya juga keluar dari tanah, tidak tertancap. Kuarahkan pandanganku ke atas. Semakin ke atas, betapa mengejutkan. Pohon ini bergerak. Sebuah wajah mirip orang tua berjenggot menghadap ke bawah. Besar sekali. Dengan mata kuningnya dia menatap ke arahku. Semakin dekat, dekat, dekat. Kakiku tak bisa bergerak. Seperti terpaku. Berteriak pun tak bisa. Pandanganku mulai kabur, gelap, sepertinya aku akan pingsan. Di tempat seperti ini. Di depan makhluk asing yang menatapku.
***---***
Berlanjut ke Part 4-->
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar