Pagi telah datang
kembali. Angin pagi ini pun juga masih semilir kencang dan semakin
kencang. Setiap harinya, aku tak bisa lepas memikirkan hutan itu. Dan
hari ini kusigapkan hatiku dan seluruh jiwaku untuk menelisik hutan
lebat tersebut. Aku sudah tak peduli bahaya apa yang akan kutemui.
Peralatan, bekal dan segala persiapan sudah kusiapkan dengan matang.
Kini saatnya bagiku menguak misteri pedalaman Hutan Lebat Raksasa.
“Masih pagi buta.”
Gumamku saat melihat jam tanganku ternyata masih menunjukkan sekitar
habis subuh. Aku memang sengaja pergi di jam segitu supaya tidak ada
orang yang tahu. Langsung ku pergi menuju dinding belakang rumah.
Cukup tinggi memang. Kira – kira sekitar 5 meter. Warnanya abu –
abu pucat.
Kulemparkan tali ke
atas dinding. 3 kali gagal dan berhasil di percobaan keempat.
Kait-nya menyangkut di sesuatu. Tanpa melihat jam, aku langsung
memanjat dinding dengan cepat, bak tupai. Beberapa menit kemudian
sampailah aku di atas dinding. Lumayan tinggi juga. Aku melihat ke
bawah, belakangku ada tanah pekarangan rumah, depanku ada tanah
kuning padang gersang. Kenapa tanahnya kuning ? apakah begitu sangat
gersang ? Tak kupedulikan. Segera kugulung talinya dan kupasang untuk
jalanku turun.
Setelah berhasil
mendarat di tanah dan menggulung tali itu, kulanjutkan perjalananku
menuju ke hutan. Tanah padang ini cukup gersang, kering dan keras
sekali. Warnanya kuning pucat. Sepertinya tanah ini mengandung
kesedihan dan kekecewaan yang begitu dalam. Hingga air mata mereka
habis dan akhirnya mengering pucat. Kulihat padang sekelilingku,
semuanya sama. Sejauh mata memandang hanya tanah kuning kering
terlihat dan hamparan hijau lebat hutan. Mulut hutan masih tampak
jauh. Entah sudah beberapa langkah kakiku. Tak kuhitung.
10 langkah lagi aku
sampai di mulut hutan. Sekitar 45 menit sudah aku sampai di mulut
hutan. Dari dekat ternyata hutan ini tampak menakutkan. Pohonnya
besar – besar. Tingginya kira – kira sekitar 20 meter lebih.
Diameternya benar, lebih dari 2 meter. Dan kulit kayunya hijau gelap
berlumut. Tebal sekali lumutnya. Daunnya juga begitu lebat, aku
sampai tak melihat ujung – ujung dedaunan masing – masing pohon.
Sejauh aku memandang ke dalam hutan, yang kulihat hanyalah kegelapan.
Aku masih berdiri di
mulut hutan. Kakiku serasa tak mau melangkah masuk. Masih teringat
diriku mengenai perkataan Pak Jaka bahwa teman – temannya
menghilang saat mencoba memasuki hutan ini. Dalam hatiku masih merasa
khawatir. Benarkah tidak apa – apa ? Apakah aku akan selamat ?
ataukah ikut menghilang seperti penebang hutan 3 tahun silam ?.
Pertanyaan – pertanyaan itu terus menggerogoti keinginanku.
Kumantapkan saja hatiku untuk maju dan mendorong kaki ini untuk
memasukki hutan. Mengenai hal yang selanjutnya terjadi pikirkan nanti
saja.
“Gelapnya.....”
gumamku menatap hutan.
Kunyalakan lampu
senterku. Kakiku mulai melangkah masuk menelusuri hutan. Menakutkan
sekali. Sekelilingku yang terlihat hanyalah pohon dan pohon. Tanahnya
lumayan gembur, karena humus mungkin. Akarnya juga besar sekali.
Semakin dalam aku memasuki hutan juga hanya pohon Willow yang
terlihat. Apakah di hutan ini tidak ada hewan buas satu pun ?. Karena
aneh menurutku, di hutan semenyeramkan ini tak ada hewan apapun.
Semakin dalam aku
menelusuri hutan. Semakin gelap pula jalan yang kutempuh. Lebatnya
dedaunan menghalangi sinar matahari masuk menelisik hutan.
Kuperhatikan sekeliling juga masih sama. Gelap. Yang kutahu, akar –
akar pepohonan ini menjalar masuk jauh ke dalam hutan. Semuanya
mengarah ke satu arah. Semua akar pepohonan ini. Akar inilah yang
menuntunku masuk menuju hutan. Kutengok ke belakang, sudah gelap, dan
di depan pun juga masih gelap. Tak lama kemudian tanahnya mulai
becek, berair, sepertinya di depan ada sumber air. Aku bergegas
melangkah maju menelusuri arah akar pepohonan. Dan tak bisa
kubayangkan, tak bisa kuungkapkan apa yang aku lihat. Sebuah sungai
membentang luas memanjang. Lebarnya mungkin sekitar 10 meter.
Tak percaya ada
sungai yang begitu luas di tengah hutan. Dedaunan pohon di sini
menutupinya dari cahaya matahari, sehingga mungkin sungai ini tak
dapat terlihat dari udara. Tapi anehnya, meski tiada cahaya, sungai
ini tampak begitu jernih. Kupikir, sungai ini sangat dalam. Karena
aku tak melihat tanah di dasar sungainya. Hanya sekumpulan akar pohon
yang saling berkaitan. Sungai itu begitu jernih dan bening, sampai
dapat memperlihatkan warna hijau dari akar pohon. Rasanya pun begitu
segar saat mencicipinya. Kuhentikan sejenak perjalananku di tepi
sungai. Sejenak melepas lelah, dan menghilangkan rasa lapar.
“Mungkin ini
penyebabnya.” Gumamku sendirian. “Sungai inilah yang menyuplai
air untuk pohon – pohon di hutan ini. Di samping mendapat cahaya
matahari dan unsur hara, mereka juga mendapat kesegaran serta nutrisi
mineral dari sungai ini. Sepertinya sungai ini sudah terbentuk sejak
beberapa ratus tahun silam, terlihat dari akar – akar pohon ini.
Tapi, kenapa panorama seindah ini menjadi hal yang menakutkan ?
Hmm...” aku melihat sekeliling.”Dan tiada satu jejak pun mengenai
tanda – tanda manusia pernah ke sini.”
Tiba – tiba angin
berhembus kencang. Aku sampai hampir ambruk. Rambutku berantakan dan
makananku terbang ke mana – mana. Bersamaan dengan itu juga, suara
auman itu muncul. ‘Aaaaarrrrrghhhh......’ kira – kira seperti
itu. Datangnya dari sebelah kananku. Suaranya sangat keras dan jelas
sekali. Sebenarnya suara apa itu. Atau suara siapakah itu sebenarnya.
Kubereskan semua perbekalanku. Ingin kucari sumber suara itu. Aku
bergegas. Namun, saat ku berbalik badan, ada batang pohon berdiri di
belakangku. Seingatku tadi di belakang tidak ada apa – apa. Apa
pohon ini berjalan, kuperhatikan seksama, batang pohon ini tidak
sebesar pohon yang lainnya. Dia tampak berbeda dan warnanya agak
terang, meski tidak bisa dibilang hijau muda. Akarnya juga keluar
dari tanah, tidak tertancap. Kuarahkan pandanganku ke atas. Semakin
ke atas, betapa mengejutkan. Pohon ini bergerak. Sebuah wajah mirip
orang tua berjenggot menghadap ke bawah. Besar sekali. Dengan mata
kuningnya dia menatap ke arahku. Semakin dekat, dekat, dekat. Kakiku
tak bisa bergerak. Seperti terpaku. Berteriak pun tak bisa.
Pandanganku mulai kabur, gelap, sepertinya aku akan pingsan. Di
tempat seperti ini. Di depan makhluk asing yang menatapku.
***---***
Berlanjut ke Part 4-->
