Selasa, 14 Februari 2017

Sesak Hati Pohon Willow - Part 1



Terdengar lagi. Suara geraman menakutkan kembali ku dengar dari belakang rumah. Suara itu mengaum di sela – sela pepohonan. Melintas bersama angin kencang. Menyisir dedaunan hijau yang lebat itu. Tampak menakutkan, memang. Tak heran, belakang rumahku adalah hamparan hutan lebat raksasa. Dengan pohon – pohon besar terhampar berkilo – kilometer.
Rumahku berada di suatu pedesaan kecil di ujung perbatasan negara. Kiri kanan hanya tampak deretan rumah berjejer, bak prajurit kolonial tengah berbaris tegap. Aku Dimas, tinggal di rumah paling ujung Barat. Bangunan yang tampak seram. Seperti wajah penyihir tua yang menatap siap melahap siapa saja yang mendekat. Terkadang aku juga takut masuk rumah sendiri, atau lebih tepatnya rumah kakekku. Dan yang paling menyeramkan adalah belakang rumah. Dijaga oleh tembok kokoh besar berdiri membeku. Seakan melindungi rumahku dari apa yang ada dibaliknya. Yaitu Hutan Lebat Raksasa yang dipisahkan oleh padang gersang yang begitu lebar.
Aku pindah ke rumah ini, rumah Kakekku di desa terpencil di negeri Hijau, sejak bulan Juni kemarin. Dahulu aku tinggal bersama orang tuaku di sebuah kota yang indah, di negeri Musim Gugur. Semenjak insiden menyeramkan beberapa bulan lalu, yang terjadi tepat di daerah ku tinggal, aku mulai pindah ke sini. Insiden bencana alam itu menelan berjuta – juta jiwa. Termasuk orang tuaku yang meninggal di rumah akibat kebakaran hebat. Beserta banjir bandang dan angin topan yang memporak – porandakan muka negara. Aku selamat. Karena keajaiban atau apa aku juga tak tahu. Dan singkat cerita akhirnya aku sampai di Negara ini. Hal pertama yang aku lihat dari Negara ini adalah hutan itu. Begitu jelas.
Pertama melihatnya, hutan lebat itu, pernah timbul pertanyaan dalam benakku. Kapankah hutan itu ada ? Dan bagaimana bisa terbentuk sebegitu luas dan besar sedangkan sekelilingnya hanya padang gersang ? Sampai kini pun belum terjawab. Dan kapankah akan terjawab ? Mungkin saat aku masuk ke hutan itu. Apakah bisa ? Entah.
***---***
Embun mulai menetes dari ujung dedaunan hijau. Rumput pun tampak basah. Sepertinya semalam gerimis, karena ku tak mendengar suara deras hujan malam itu. Suasana pagi ini begitu indah. Bunga – bunga mulai mekar. Burung – burung bernyanyi dan berkicau. Terbang ke sana kemari. Menyambut awal musim ini.
Ternyata sudah musim semi. Cocok untuk negeri yang hijau.”
Seperti biasanya, pagi ini pun juga cukup hening. Meski bukan berarti sepi. Banyak juga orang – orang berkeliaran di jalanan. Namun mereka terlihat bungkam dalam kata. Diam dalam tempurung. Ditolak keramaian. Ataukah ini hanya perasaanku saja, ataukah memang penduduk di perkampungan ini seperti ini. Pun, aku yang sudah menetap berbulan – bulan masih tidak mengerti mereka.
Yang ku tahu hanya satu. Di tengah keheningan itu, selalu hutan lebat itu yang terbayang. Seakan ada kekuatan yang menarikku.”
Mungkin percuma memikirkan semua itu. Memikirkan hutan yang belum tentu kejelasannya. Sudahlah.....
Pagi ini kuhabiskan waktuku dengan duduk di teras rumah. Duduk di kursi kayu yang berbau khas. Ditemani secangkir Apple Tea dan sepiring roti panggang. Menikmati indahnya musim semi di pagi hari. Menanti habisnya tetes embun di dedaunan...
Permisi, bisa tolong ambilkan bolanya, Kak ?” Suara seorang anak memecah konsentrasiku saat membaca Novel.
Iya, baiklah”, Memang tadi aku sempat mendengar bunyi ‘Duk !’. Segera kuhampiri bola itu dan kuberikan ke bocah laki – laki umur 10 tahun itu.
Terima Kasih” jawabnya. Dan berlalu menuju teman – temannya.
Aku ingin melanjutkan membaca Novel lagi. Sambil menikmati hembusan pagi hari. Namun saat ku baru saja menoleh, dari kejauhan, ku lihat ada seorang bapak paruh baya tengah membawa sesuatu di atas gerobak yang ditariknya. Apa itu ? wujudnya masih samar. Yang terlihat hanya baju lusuh si Bapak dan uban putihnya yang tertutup topi coklat. Kutunggu saja, di tempatku berdiri. Sepertinya bapak itu akan lewat sini. Soalnya tikungan terakhir sudah dilewatinya. Dan jalan satu – satunya adalah lewat depan rumahku. Lambat laun, bapak itu mulai mendekat. Masih dengan gerobaknya. Yang perlahan – lahan mulai tampak apa itu yang tengah dibawanya.
Warnanya coklat kehitaman. Teksturnya terlihat kuat. Bentuknya juga besar, sepertinya sesuatu yang kokoh. Dan saat si Bapak mendekat, baru dapat kusimpulkan benda apa itu. Ternyata gelondongan kayu. Besar sekali ya ?! pikirku. Karena memang ukuran yang ditarik bapak itu tidak bisa dibilang kecil dan enteng. Jika diukur, mungkin diameternya sepanjang lenganku. Dan panjangnya sekitar 1,5 meter. Di sini aku penasaran. Apakah bapak ini mengambil kayu dari hutan ?? Hutan Lebat Raksasa.
Permisi , pak.” Kuhentikan langkah bapak itu saat melintas di depanku. Heran bagiku. Betapa besarnya kayu itu ternyata saat kulihat dekat sekali. Betapa kuatnya tenaga bapak 35 tahun itu menarik kayu – kayu sebesar ini. Tubuhnya memang tidak besar. Namun cukup berisi.
Ada apa, mas ?” Tanya bapak itu heran, sambil mengelap peluhnya yang mengalir deras di dahinya yang berwarna sawo matang. Wajahnya masih penuh tanda tanya. Heran, karena orang asing yang tidak dikenalnya tengah menghentikan langkah kakinya.
Anu...” aku hendak menjawab. Namun pikirku, apakah pantas menanyakan tentang hutan itu di tengah kecapekan seorang bapak ini ?. Aku seperti orang jahat saja. Yang mengganggu kesibukan orang di tengah kenyamanannya menikmati kesibukan, lalu aku, yang merupakan orang asing baginya, datang mengganggu.
Boleh saya bantu, pak ? sepertinya bapak capek sekali.” Akhirnya aku malah menawarkan bantuan.
Tidak usah mas, saya bisa sendiri.”
Tidak apa – apa pak, lagian saya juga lagi nggak ngapa – ngapain.”
Ya, sudah kalau begitu. Terima Kasih.” Dan akhirnya aku pun membantu bapak paruh baya itu dengan ikut mendorong gerobaknya. Sepanjang perjalanan. Sebanyak kaki ini melangkah.
***---***
Berlanjut ke Part 2-->
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar