Terdengar lagi.
Suara geraman menakutkan kembali ku dengar dari belakang rumah. Suara
itu mengaum di sela – sela pepohonan. Melintas bersama angin
kencang. Menyisir dedaunan hijau yang lebat itu. Tampak menakutkan,
memang. Tak heran, belakang rumahku adalah hamparan hutan lebat
raksasa. Dengan pohon – pohon besar terhampar berkilo – kilometer.
Rumahku berada di
suatu pedesaan kecil di ujung perbatasan negara. Kiri kanan hanya
tampak deretan rumah berjejer, bak prajurit kolonial tengah berbaris
tegap. Aku Dimas, tinggal di rumah paling ujung Barat. Bangunan yang
tampak seram. Seperti wajah penyihir tua yang menatap siap melahap
siapa saja yang mendekat. Terkadang aku juga takut masuk rumah
sendiri, atau lebih tepatnya rumah kakekku. Dan yang paling
menyeramkan adalah belakang rumah. Dijaga oleh tembok kokoh besar
berdiri membeku. Seakan melindungi rumahku dari apa yang ada
dibaliknya. Yaitu Hutan Lebat Raksasa yang dipisahkan oleh padang
gersang yang begitu lebar.
Aku pindah ke rumah
ini, rumah Kakekku di desa terpencil di negeri Hijau, sejak bulan
Juni kemarin. Dahulu aku tinggal bersama orang tuaku di sebuah kota
yang indah, di negeri Musim Gugur. Semenjak insiden menyeramkan
beberapa bulan lalu, yang terjadi tepat di daerah ku tinggal, aku
mulai pindah ke sini. Insiden bencana alam itu menelan berjuta –
juta jiwa. Termasuk orang tuaku yang meninggal di rumah akibat
kebakaran hebat. Beserta banjir bandang dan angin topan yang memporak
– porandakan muka negara. Aku selamat. Karena keajaiban atau apa
aku juga tak tahu. Dan singkat cerita akhirnya aku sampai di Negara
ini. Hal pertama yang aku lihat dari Negara ini adalah hutan itu.
Begitu jelas.
Pertama melihatnya,
hutan lebat itu, pernah timbul pertanyaan dalam benakku. Kapankah
hutan itu ada ? Dan bagaimana bisa terbentuk sebegitu luas dan besar
sedangkan sekelilingnya hanya padang gersang ? Sampai kini pun belum
terjawab. Dan kapankah akan terjawab ? Mungkin saat aku masuk ke
hutan itu. Apakah bisa ? Entah.
***---***
Embun mulai menetes
dari ujung dedaunan hijau. Rumput pun tampak basah. Sepertinya
semalam gerimis, karena ku tak mendengar suara deras hujan malam itu.
Suasana pagi ini begitu indah. Bunga – bunga mulai mekar. Burung –
burung bernyanyi dan berkicau. Terbang ke sana kemari. Menyambut awal
musim ini.
“Ternyata sudah
musim semi. Cocok untuk negeri yang hijau.”
Seperti biasanya,
pagi ini pun juga cukup hening. Meski bukan berarti sepi. Banyak juga
orang – orang berkeliaran di jalanan. Namun mereka terlihat bungkam
dalam kata. Diam dalam tempurung. Ditolak keramaian. Ataukah ini
hanya perasaanku saja, ataukah memang penduduk di perkampungan ini
seperti ini. Pun, aku yang sudah menetap berbulan – bulan masih
tidak mengerti mereka.
“Yang ku tahu
hanya satu. Di tengah keheningan itu, selalu hutan lebat itu yang
terbayang. Seakan ada kekuatan yang menarikku.”
Mungkin percuma
memikirkan semua itu. Memikirkan hutan yang belum tentu kejelasannya.
Sudahlah.....
Pagi ini kuhabiskan
waktuku dengan duduk di teras rumah. Duduk di kursi kayu yang berbau
khas. Ditemani secangkir Apple
Tea dan
sepiring roti panggang. Menikmati indahnya musim semi di pagi hari.
Menanti habisnya tetes embun di dedaunan...
“Permisi, bisa
tolong ambilkan bolanya, Kak ?” Suara seorang anak memecah
konsentrasiku saat membaca Novel.
“Iya, baiklah”,
Memang tadi aku sempat mendengar bunyi ‘Duk !’. Segera kuhampiri
bola itu dan kuberikan ke bocah laki – laki umur 10 tahun itu.
“Terima Kasih”
jawabnya. Dan berlalu menuju teman – temannya.
Aku ingin
melanjutkan membaca Novel lagi. Sambil menikmati hembusan pagi hari.
Namun saat ku baru saja menoleh, dari kejauhan, ku lihat ada seorang
bapak paruh baya tengah membawa sesuatu di atas gerobak yang
ditariknya. Apa itu ? wujudnya masih samar. Yang terlihat hanya baju
lusuh si Bapak dan uban putihnya yang tertutup topi coklat. Kutunggu
saja, di tempatku berdiri. Sepertinya bapak itu akan lewat sini.
Soalnya tikungan terakhir sudah dilewatinya. Dan jalan satu –
satunya adalah lewat depan rumahku. Lambat laun, bapak itu mulai
mendekat. Masih dengan gerobaknya. Yang perlahan – lahan mulai
tampak apa itu yang tengah dibawanya.
Warnanya coklat
kehitaman. Teksturnya terlihat kuat. Bentuknya juga besar, sepertinya
sesuatu yang kokoh. Dan saat si Bapak mendekat, baru dapat
kusimpulkan benda apa itu. Ternyata gelondongan kayu. Besar sekali ya
?! pikirku. Karena memang ukuran yang ditarik bapak itu tidak bisa
dibilang kecil dan enteng. Jika diukur, mungkin diameternya sepanjang
lenganku. Dan panjangnya sekitar 1,5 meter. Di sini aku penasaran.
Apakah bapak ini mengambil kayu dari hutan ?? Hutan Lebat Raksasa.
“Permisi , pak.”
Kuhentikan langkah bapak itu saat melintas di depanku. Heran bagiku.
Betapa besarnya kayu itu ternyata saat kulihat dekat sekali. Betapa
kuatnya tenaga bapak 35 tahun itu menarik kayu – kayu sebesar ini.
Tubuhnya memang tidak besar. Namun cukup berisi.
“Ada apa, mas ?”
Tanya bapak itu heran, sambil mengelap peluhnya yang mengalir deras
di dahinya yang berwarna sawo matang. Wajahnya masih penuh tanda
tanya. Heran, karena orang asing yang tidak dikenalnya tengah
menghentikan langkah kakinya.
“Anu...” aku
hendak menjawab. Namun pikirku, apakah pantas menanyakan tentang
hutan itu di tengah kecapekan seorang bapak ini ?. Aku seperti orang
jahat saja. Yang mengganggu kesibukan orang di tengah kenyamanannya
menikmati kesibukan, lalu aku, yang merupakan orang asing baginya,
datang mengganggu.
“Boleh saya bantu,
pak ? sepertinya bapak capek sekali.” Akhirnya aku malah menawarkan
bantuan.
“Tidak usah mas,
saya bisa sendiri.”
“Tidak apa – apa
pak, lagian saya juga lagi nggak ngapa – ngapain.”
“Ya, sudah kalau
begitu. Terima Kasih.” Dan akhirnya aku pun membantu bapak paruh
baya itu dengan ikut mendorong gerobaknya. Sepanjang perjalanan.
Sebanyak kaki ini melangkah.
***---***
Berlanjut ke Part 2-->
