Selasa, 14 Februari 2017

Sesak Hati Pohon Willow - Part 2


Dua blok rumah tak terasa telah berlalu. Sampailah kami di depan rumah si Bapak itu. Kami berhenti di depan rumah yang terlihat tua. Tampak dari tiang dan temboknya yang termakan usia. Rayap yang bergelantungan. Bekas air di tembok, dan sepertinya bapak ini pekerjaannya adalah tukang kayu. Karena banyak sekali bekas serutan kayu berserakan dimana – mana. Dan peralatan tukang kayu kebanyakan begitu lengkap tergantung di tembok.
Gelondongan kayu besar itu segera kami singkirkan dari gerobak. Lumayan juga. Sedikit menguras tenaga, hitung – hitung pengorbanan untuk mengerti mengenai hutan itu. Tapi, apakah aku terlalu mengharapkan informasi itu kepada Bapak ini ? Aku saja tidak tahu namanya siapa.
Terima Kasih ya, mas. Sudah mau bantuin Bapak.” Bapak itu mengawali percakapan, yang telah diketahui namanya adalah Pak Jaka. Tertulis di depan pintunya.
Tidak apa – apa, pak.” Kujawab.
Ngomong – ngomong ..” Dengan keyakinan penuh. “Apakah bapak mendapatkan gelondongan kayu – kayu ini dari Hutan itu ?”
Hutan ? maksudnya ?”
Hutan Lebat Raksasa.” Ekspresi Pak Jaka agak sedikit tercengang. Kaget, ketika aku mengucapkan nama hutan itu. Apakah benar dia mengetahui tentang hutan itu ?.
Tidak, mas Dimas. Bahkan saya tidak tahu mengenai hutan tersebut.” Dia langsung menyangkalnya. Namun aku melihat di wajahnya, bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Oh begitu.” Jawabku lesu.
Saya mengambil kayu ini dari desa sebelah. Terlihat tekstur kayunya juga sudah berbeda.” Dia menjelaskan sambil menunjuk ke gelondongan kayu yang terbaring di samping tempat dudukku. “Kayu ini tekstur kulitnya kasar berwarna coklat tua gelap, diameternya juga sekitar antara 0,5 – 1 meter. Sedangkan hutan itu memiliki tekstur kulit hijau gelap berlumut, dengan diameter lebih dari 2 meter, daunnya lebat dan eh..” dia tak melanjutkan.
Tunggu sebentar, pak. Sepertinya Bapak tahu banyak.” Begitu yang kukatakan. “Sepertinya Bapak tahu sekali mengenai Hutan Lebat Raksasa itu, terlihat dari anda yang menjelaskan sekilas mengenai keadaan pohon yang ada di sana.”
Pak Jaka terlihat sedikit bingung. Entah dia karena berada dalam posisi tertekan atau karena ada rahasia dari Hutan Lebat Raksasa yang tidak bisa dia beberkan ?. Semua itu hanya menunggu beberapa detik bagiku. Karena aku tidak salah. Aku yakin, Pak Jaka tahu sedikit banyak mengenai hutan itu. Dia masih terlihat berkeringat. Karena siang ini cuacanya memang cukup panas. Tapi kami berada di tempat teduh di rumahnya. Keringat itu adalah keringat dingin.
Pak Jaka duduk di sampingku. Di bangkunya yang juga sedang aku duduki. Dilepasnya topi mungil yang melindungi kepalanya sedari tadi. Dia menghela nafas.
Mungkin aku memang harus menceritakan ini.” Dia memulai, setelah sejenak mengalami keheningan. “Sebenarnya aku pernah ke hutan itu.”
Pernah ke Hutan ??!” Sontak aku kaget mendengar itu.
Dulu, sekitar 3 tahun yang lalu, kami para tukang kayu disewa untuk mencari kayu dalam sebuah proyek besar. Proyek ini diberikan atas nama perusahaan meubel tersohor. Dan mereka meminta jenis kayu yang terbaik.” Aku mendengarkan dengan seksama. Pak Jaka melanjutkan.
Setahu kami ada Hutan Lebat yang jenis kayunya itu terbaik, menurut beberapa kalangan. Yaitu Hutan Lebat Raksasa. Pohon yang tumbuh di hutan tersebut hanya satu jenis saja. Tak lain dan tak bukan adalah pohon Willow. Pohon Willow merupakan pohon yang telah hidup sejak zaman sebelum dinosaurus hingga sekarang. Disebut juga pohon hidup, karena mereka tak pernah layu meski berada di tengah padang gersang seperti hutan yang di belakang tembok pembatas itu.” Dia menunjuk tembok tinggi berwarna abu – abu itu, yang sebenarnya dia sedang menunjuk ke arah hutan. “Hingga terjadinya insiden itu.”
Insiden.... ??!?!” Sejenak suasana hening karena satu kata. Insiden.
Pak Jaka mengatakan mengenai sebuah insiden yang terjadi 3 tahun silam. Insiden apakah itu ? apakah ada hubungannya dengan misteri dari hutan itu ?
Selama seminggu kami telah banyak menebang beberapa dari pohon willow tersebut. Memang ku akui pohon willow memiliki komposisi tumbuhan yang sempurna, dan itu yang telah mengotori hati kami. Kami semakin haus akan keindahan kayunya dan salah seorang temanku berkata ...
ayo kita tebang pohon bagian dalam. Semakin dalam hutan, kayu pohonnya semakin bagus. Dan semakin bagus kualitas yang kita bawa, semakin besar honor kita pula. Hahaha.’
Entah itu benar atau tidak tapi menurutku itu salah. Selama ini kami memang menebang pohon yang ada di bagian luar hutan saja. Tapi jika masuk ke dalam, aku merasakan perasaan aneh. Dan sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi.”
Pak Jaka menggenggam kedua tangannya. Dia tampak ketakutan ketika bercerita. Terlihat dari raut wajahnya. Sepertinya sesuatu yang buruk memang telah terjadi saat itu. Hal itu semakin membuatku menjadi penasaran.
Dan akhirnya mereka masuk ke dalam hutan. Aku mengatakan kepada mereka kalau aku tidak ikut masuk. Aku akan menjaga barang – barang yang mereka tinggal. Mereka hanya meng-iya-kan ucapanku. Mungkin di hatinya mereka mengataiku pengecut. Tapi tak apalah.
Saat itu masih pagi, matahari pun juga belum terlalu tinggi. Mungkin masih sekitar jam 9. Tapi rasanya lama sekali. Hingga beberapa jam kemudian, mereka belum juga kembali. Matahari sudah mulai menutup hari. Sepertinya terjadi sesuatu dengan mereka. Aku ingin menyusul, tapi hari sudah gelap. Akhirnya kuputuskan untuk pulang. Namun keesokan harinya, tetap tiada kabar dari mereka. Kuhubungi keluarganya untuk memastikan keadaan. Mereka juga mengatakan belum pulang, Sejak saat itu sampai sekarang aku masih belum mendengar kabar teman sepekerjaanku. Itulah terakhir kalinya aku mengunjungi hutan itu dan meninggalkannya.
Dan hal terakhir yang sempat terdengar olehku, adalah suara auman menakutkan yang menggema dari dalam hutan.”
Kalimat itu mengakhiri ceritanya, sekaligus perbincangan kami. Dalam perjalanan pulang, aku semakin kepikiran hutan itu terus. Sebenarnya ada apa di dalam hutan itu, hingga terjadi kasus kehilangan. Menyembunyikan misteri apakah ia. Pertanyaanku hanya masih menggantung bersama tanda tanya.
Malam semakin larut. Tak terasa jam telah berdentang 12 kali. Sudah tengah malam ternyata. Mata ini tetap tak bisa terpejam. Ku tengok ke luar jendela. Ranting – ranting pohon menari di tengah bersama hembusan angin. Anginnya cukup kencang, soalnya lambaian dedaunan itu tak menunjukkan betapa pelannya sang angin. Jalanan di luar cukup sepi. Kini hanya kesunyian dan keheningan di malam ini. Di tengah kesunyian itu, terdengar lagi auman dari belakang rumah. Tepatnya dari hutan. Auman itu semakin keras dari biasanya dan semakin sering terdengar. Ynag kuherankan, apakah penduduk sini tidak mengetahuinya ataukah tidak mau tau ?
***---***
Berlanjut ke Part 3-->
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar