Dua blok rumah tak
terasa telah berlalu. Sampailah kami di depan rumah si Bapak itu.
Kami berhenti di depan rumah yang terlihat tua. Tampak dari tiang dan
temboknya yang termakan usia. Rayap yang bergelantungan. Bekas air di
tembok, dan sepertinya bapak ini pekerjaannya adalah tukang kayu.
Karena banyak sekali bekas serutan kayu berserakan dimana – mana.
Dan peralatan tukang kayu kebanyakan begitu lengkap tergantung di
tembok.
Gelondongan kayu
besar itu segera kami singkirkan dari gerobak. Lumayan juga. Sedikit
menguras tenaga, hitung – hitung pengorbanan untuk mengerti
mengenai hutan itu. Tapi, apakah aku terlalu mengharapkan informasi
itu kepada Bapak ini ? Aku saja tidak tahu namanya siapa.
“Terima Kasih ya,
mas. Sudah mau bantuin Bapak.” Bapak itu mengawali percakapan, yang
telah diketahui namanya adalah Pak Jaka. Tertulis di depan pintunya.
“Tidak apa –
apa, pak.” Kujawab.
“Ngomong –
ngomong ..” Dengan keyakinan penuh. “Apakah bapak mendapatkan
gelondongan kayu – kayu ini dari Hutan itu ?”
“Hutan ? maksudnya
?”
“Hutan Lebat
Raksasa.” Ekspresi Pak Jaka agak sedikit tercengang. Kaget, ketika
aku mengucapkan nama hutan itu. Apakah benar dia mengetahui tentang
hutan itu ?.
“Tidak, mas Dimas.
Bahkan saya tidak tahu mengenai hutan tersebut.” Dia langsung
menyangkalnya. Namun aku melihat di wajahnya, bahwa dia sedang
menyembunyikan sesuatu.
“Oh begitu.”
Jawabku lesu.
“Saya mengambil
kayu ini dari desa sebelah. Terlihat tekstur kayunya juga sudah
berbeda.” Dia menjelaskan sambil menunjuk ke gelondongan kayu yang
terbaring di samping tempat dudukku. “Kayu ini tekstur kulitnya
kasar berwarna coklat tua gelap, diameternya juga sekitar antara 0,5
– 1 meter. Sedangkan hutan itu memiliki tekstur kulit hijau gelap
berlumut, dengan diameter lebih dari 2 meter, daunnya lebat dan eh..”
dia tak melanjutkan.
“Tunggu sebentar,
pak. Sepertinya Bapak tahu banyak.” Begitu yang kukatakan.
“Sepertinya Bapak tahu sekali mengenai Hutan Lebat Raksasa itu,
terlihat dari anda yang menjelaskan sekilas mengenai keadaan pohon
yang ada di sana.”
Pak Jaka terlihat
sedikit bingung. Entah dia karena berada dalam posisi tertekan atau
karena ada rahasia dari Hutan Lebat Raksasa yang tidak bisa dia
beberkan ?. Semua itu hanya menunggu beberapa detik bagiku. Karena
aku tidak salah. Aku yakin, Pak Jaka tahu sedikit banyak mengenai
hutan itu. Dia masih terlihat berkeringat. Karena siang ini cuacanya
memang cukup panas. Tapi kami berada di tempat teduh di rumahnya.
Keringat itu adalah keringat dingin.
Pak Jaka duduk di
sampingku. Di bangkunya yang juga sedang aku duduki. Dilepasnya topi
mungil yang melindungi kepalanya sedari tadi. Dia menghela nafas.
“Mungkin aku
memang harus menceritakan ini.” Dia memulai, setelah sejenak
mengalami keheningan. “Sebenarnya aku pernah ke hutan itu.”
“Pernah ke Hutan
??!” Sontak aku kaget mendengar itu.
“Dulu, sekitar 3
tahun yang lalu, kami para tukang kayu disewa untuk mencari kayu
dalam sebuah proyek besar. Proyek ini diberikan atas nama perusahaan
meubel tersohor. Dan mereka meminta jenis kayu yang terbaik.” Aku
mendengarkan dengan seksama. Pak Jaka melanjutkan.
“Setahu kami ada
Hutan Lebat yang jenis kayunya itu terbaik, menurut beberapa
kalangan. Yaitu Hutan Lebat Raksasa. Pohon yang tumbuh di hutan
tersebut hanya satu jenis saja. Tak lain dan tak bukan adalah pohon
Willow. Pohon Willow merupakan pohon yang telah hidup sejak zaman
sebelum dinosaurus hingga sekarang. Disebut juga pohon hidup, karena
mereka tak pernah layu meski berada di tengah padang gersang seperti
hutan yang di belakang tembok pembatas itu.” Dia menunjuk tembok
tinggi berwarna abu – abu itu, yang sebenarnya dia sedang menunjuk
ke arah hutan. “Hingga terjadinya insiden itu.”
“Insiden....
??!?!” Sejenak suasana hening karena satu kata. Insiden.
Pak Jaka mengatakan
mengenai sebuah insiden yang terjadi 3 tahun silam. Insiden apakah
itu ? apakah ada hubungannya dengan misteri dari hutan itu ?
“Selama seminggu
kami telah banyak menebang beberapa dari pohon willow tersebut.
Memang ku akui pohon willow memiliki komposisi tumbuhan yang
sempurna, dan itu yang telah mengotori hati kami. Kami semakin haus
akan keindahan kayunya dan salah seorang temanku berkata ...
‘ayo kita tebang
pohon bagian dalam. Semakin dalam hutan, kayu pohonnya semakin bagus.
Dan semakin bagus kualitas yang kita bawa, semakin besar honor kita
pula. Hahaha.’
Entah itu benar atau
tidak tapi menurutku itu salah. Selama ini kami memang menebang pohon
yang ada di bagian luar hutan saja. Tapi jika masuk ke dalam, aku
merasakan perasaan aneh. Dan sepertinya sesuatu yang buruk akan
terjadi.”
Pak Jaka menggenggam
kedua tangannya. Dia tampak ketakutan ketika bercerita. Terlihat dari
raut wajahnya. Sepertinya sesuatu yang buruk memang telah terjadi
saat itu. Hal itu semakin membuatku menjadi penasaran.
“Dan akhirnya
mereka masuk ke dalam hutan. Aku mengatakan kepada mereka kalau aku
tidak ikut masuk. Aku akan menjaga barang – barang yang mereka
tinggal. Mereka hanya meng-iya-kan ucapanku. Mungkin di hatinya
mereka mengataiku pengecut. Tapi tak apalah.
Saat itu masih pagi,
matahari pun juga belum terlalu tinggi. Mungkin masih sekitar jam 9.
Tapi rasanya lama sekali. Hingga beberapa jam kemudian, mereka belum
juga kembali. Matahari sudah mulai menutup hari. Sepertinya terjadi
sesuatu dengan mereka. Aku ingin menyusul, tapi hari sudah gelap.
Akhirnya kuputuskan untuk pulang. Namun keesokan harinya, tetap tiada
kabar dari mereka. Kuhubungi keluarganya untuk memastikan keadaan.
Mereka juga mengatakan belum pulang, Sejak saat itu sampai sekarang
aku masih belum mendengar kabar teman sepekerjaanku. Itulah terakhir
kalinya aku mengunjungi hutan itu dan meninggalkannya.
Dan hal terakhir
yang sempat terdengar olehku, adalah suara auman menakutkan yang
menggema dari dalam hutan.”
Kalimat itu
mengakhiri ceritanya, sekaligus perbincangan kami. Dalam perjalanan
pulang, aku semakin kepikiran hutan itu terus. Sebenarnya ada apa di
dalam hutan itu, hingga terjadi kasus kehilangan. Menyembunyikan
misteri apakah ia. Pertanyaanku hanya masih menggantung bersama tanda
tanya.
Malam semakin larut.
Tak terasa jam telah berdentang 12 kali. Sudah tengah malam ternyata.
Mata ini tetap tak bisa terpejam. Ku tengok ke luar jendela. Ranting
– ranting pohon menari di tengah bersama hembusan angin. Anginnya
cukup kencang, soalnya lambaian dedaunan itu tak menunjukkan betapa
pelannya sang angin. Jalanan di luar cukup sepi. Kini hanya kesunyian
dan keheningan di malam ini. Di tengah kesunyian itu, terdengar lagi
auman dari belakang rumah. Tepatnya dari hutan. Auman itu semakin
keras dari biasanya dan semakin sering terdengar. Ynag kuherankan,
apakah penduduk sini tidak mengetahuinya ataukah tidak mau tau ?
***---***
Berlanjut ke Part 3-->
