Sesak Hati Pohon Willow - Part 4
“Di mana aku ?”
sepertinya tadi aku benar – benar pingsan, ataukah aku hanya
ketiduran. “Sekilas tadi aku melihat makhluk yang menakutkan, apa
cuma mimpi ?”. Kutegakkan badanku, kubangunkan dari rebahanku.
Kuperiksa tubuhku, ternyata masih utuh. Haha.
“Sudah bangun ?”
sebuah suara serak lantang mengagetkanku. Kutengok sebelah kanan,
asal suara itu. Betapa kagetnya aku, sesosok makhluk besar tengah
duduk di sampingku. Besar sekali. Ternyata bukan mimpi. Tingginya
mungkin sekitar 5 meter. Dia terbuat dari kayu. Mungkin bangsa Ent.
Seperti di cerita mitos, yaitu makhluk hutan yang berwujud pohon.
Wajahnya agak menyeramkan. Berjenggot, dan terlihat tua.
“Siapa kau ?”
tanyaku sedikit ketakutan.
“Namaku Ern
Willow.” Jawabnya. “Maaf jika menakutkanmu. Sebenarnya apa yang
kau cari di hutan ini ? wahai manusia perusak alam.”
“Apa maksudmu
dengan perusak alam ? Aku bukanlah perusak, aku ke sini hanya ingin
mengetahui asal auman yang selalu kudengar setiap hari dan misteri
hutan ini.”
“Semua manusia itu
sama saja. Tidak bisa menghargai alam. Untuk apa aku percaya padamu.”
“Ku mohon
percayalah, aku ke sini, masuk hutan ini dan membahayakan diriku,
hanya karena ingin menjawab semua pertanyaanku yang selama ini
menghantui. Ku mohon percayalah.” Aku berusaha meyakinkannya. Kami
saling bertatapan. Mata besarnya yang berwarna kuning itu seperti
masih menatap sebuah keraguan. Apa yang menyebabkannya seperti itu ?
apa yang telah diperbuat manusia terhadapnya ?.
“Baiklah kalau
begitu.” Sepertinya dia percaya. “Lihatlah ke sana.” Tangan
besarnya menunjuk ke sesuatu. Kuarahkan saja langsung pandanganku ke
arah yang ditunjuknya.
“Wow, indah
sekali.” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Betapa menakjubkannya yang
kulihat. Sejauh mata memandang, di depanku, ada danau yang begitu
luas. Di sekelilingnya terdapat muara yang mengarah ke sungai –
sungai yang mengalir ke seluruh penjuru hutan. Mungkin danau ini
adalah pusatnya. Sungguh menakjubkan.
Di tengah – tengah
danau ini terdapat pohon yang besar sekali. Rantingnya tumbuh
menjalar sekeliling danau yang menyebabkan lebatnya dedaunan
melindungi danau itu dari sinar matahari. Dasar danaunya bukan tanah
ataupun akar, melainkan hitam pekat.
“Danau apakah ini
? kenapa tidak terlihat dasar danaunya ?” tanyaku pada Ern.
“Ini adalah Danau
Harapan.” Jawabnya. “Danau inilah yang menjadi pusat energi hutan
ini. Dan pohon itu, adalah Pohon Kehidupan. Jantung Hutan. Pohon yang
menopang kehidupan hutan. Disebut juga sebagai Elder Willow. Dasar
danau ini tidak berdasar. Di bawah genangan air ini yang ada hanyalah
ruang hampa. Sekali kau jatuh maka kau akan mati. Dan auman yang kau
tanyakan itu, sebenarnya bukanlah berasal dari hewan ataupun
bangsaku, bangsa Ent. Melainkan dari angin yang berasal dari ruang
hampa itu.”
“Angin ? dari
ruang hampa ? bagaimana bisa ? angin itu tidak bisa menembus partikel
padat. Termasuk air.”
“Memang tidak
masuk akal, terserah kalau tidak percaya, tapi memang begitu adanya.
Coba lihat, danau itu mulai bergemericik, sebentar lagi akan terjadi
angin hembusan. Sebaiknya kau berpegang pada akar – akar itu atau
padaku. Jika tak ingin terbang.” Kuperhatikan permukaan air, memang
sedang bergemericik.
Semakin keras saja.
Seperti ada yang mendorong mereka. Tiba – tiba angin kencang datang
dari bawah danau. Itu benar, dan air tidak ada yang terangkat sedikit
pun. Selang beberapa detik kemudian angin itu berhembus menyebar.
Termasuk ke arahku. Aku hampir terbawa hingga terbang, untung saja
aku segera berpegangan pada Ern. Bersamaan dengan itu, suara auman
itu juga muncul, bahkan lebih, lebih, dan lebih keras dari
sebelumnya. Telingaku sampai hampir sakit.
“Ini adalah suara
kesedihan hutan.” Tukasnya dengan wajah sedikit murung.
“Kesedihan ?”
sahutku “Kenapa kau bisa mengatakan seperti itu ?”
“Ini semua karena
manusia. Mereka selalu merusak alam, tak peduli apapun itu. Hutan,
sungai, laut, pegunungan dan panorama alam lainnya. Penebangan liar
mereka lakukan. Sampah di sungai juga tak terhitung. Limbah di lautan
juga berliter – liter. Apakah kalian tidak memikirkan perasaan alam
ini ? Alam yang senantiasa memberikan kalian sumber kehidupan.”
“Sebegitu bencikah
kau terhadap manusia ?”
“Iya, karena ulah
kalian, kami juga menderita, bahkan lebih menderita. Penebangan hutan
menyebabkan kebakaran yang juga membakar keturunan kami. Tanah
longsor yang menghancurkan tempat kami berpijak. Sampah juga akan
menyebabkan banjir di mana – mana. Yang juga bisa menghancurkan
masa depan jenis kalian. Dan ketika alam sudah rusak, kalian para
manusia pasti akan mengeluh kepada Tuhan. Apakah KALIAN tidak punya
rasa TERIMA KASIH ataupun PENYESALAN ?!?” perkataannya menusukku
sebagai manusia.
“Saat alam mulai
marah,” dia melanjutkan, “Tiada dari kalian yang dapat
menghentikannya. Tiada dari kalian yang sanggup menghadapinya. Ini
adalah hukuman. Hukuman.” Ocehannya terhenti. Sejenak suasana
menjadi hening. Semua pernyataannya menjadi renunganku.
“Kami para
manusia, “ sahutku, “Memang sangat bergantung kepada alam. Tanpa
kalian, kami tidak akan pernah bisa hidup. Berkat kalian, kami bisa
hidup hingga abad ini. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, Terima
Kasih.
Memang, beberapa
dari kami, lebih mementingkan keserakahan dan keegoisannya serta tak
memperhatikan alam sama sekali. Namun, itu hanya sebagian kecil dan
tidak semuanya.”
“Itulah kenapa aku
benci manusia. Dan sampai kapanpun, kalian tidak akan pernah berubah.
Mungkin kau memang orang baik, tapi apakah dengan kebaikanmu saja
bisa mengubah semua keburukan manusia di dunia ? Mustahil.”
Perkataannya membuatku diam. “Belum tentu seseorang dengan moral
mulia dapat mengubah moral seseorang 180 derajat. Itulah yang
kupahami tentang manusia. Oleh sebab itu aku harus melindungi hutan
ini.”
“Aku baru
mengerti. Itulah rasa bencimu terhadap kami. Sudah jelas semua
sekarang.” Begitulah pikirku. Semua pertanyaanku sepertinya sudah
terjawab. Hutan ini menyimpan kesedihan dan kepedihan alam, yang mana
itu disebabkan oleh kita, manusia.
“Kau harus segera
meniggalkan hutan ini.” Perkataannya memecahkan lamunanku.
“Pergi ? sekarang
?”
“Benar”
“Apakah aku bisa
bertemu denganmu lagi ?”
“Tidak, dan takkan
pernah. Karena ini akan menjadi kunjungan terakhirmu.”
“Apa kau tidak
khawatir aku akan membocorkan rahasia hutan ini ?”
“Tidak, karena aku
tahu kau bukan orang yang seperti itu.” Aku tersenyum, karena
sepertinya dia percaya padaku.
“Sekarang pejamkan
matamu.”
“Tunggu, satu
pertanyaan lagi.” Kuhentikan yang akan dilakukannya.
“Baiklah, apa ?”
“3 tahun silam,
ada sekelompok penebang kayu yang memasuki hutan. Dan sejak saat itu
mereka menghilang sampai saat ini. Apakah mereka dimakan binatang
buas hutan ini atau bangsa kalian menyerang mereka ?”
“Hmm. Inilah
manusia, penuh kecurigaan terhadap alam. Pertama – tama, kami
bukanlah bangsa barbar seperti kalian.” Jawabnya, “Kami tidak
akan menyerang siapapun, termasuk manusia. Kedua, di sini sama sekali
tidak ada binatangnya, meski ini adalah hutan. Dan para penebang itu
meninggal karena tersesat dan kelaparan. Jasad mereka terkubur di
bawah tumpukan akar pepohonan.”
“Tak bisa
dipercaya, jadi seperti itu” terangku, “Ternyata kalian memang
makhluk yang baik, Ern. Baiklah, kalau memang aku harus pergi, inilah
saatnya. Selamat tinggal. Sejujurnya aku masih ingin bertemu denganmu
lagi.”
Itulah hal terakhir
perbincangan antara kami berdua. Kupejamkan mataku sesuai
permintaannya. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Tiba –
tiba berhembus semilir angin dari arah samping. Selang beberapa detik
kemudian kubuka kedua mataku. Aku melihat sesuatu yang tidak asing
lagi. Tembok pembatas abu – abu. Ternyata aku sudah berada di luar
hutan. Menoleh ke belakang, hanya gelap yang terlihat. Hatiku cukup
lega, karena berhasil keluar hutan dengan selamat. Kuharap aku bisa
bertemu dengannya lagi, Ern Willow. Dia adalah sosok pemerhati alam
sejati.
Matahari juga mulai
menutup hari, mengiringi langkahku menutup petualangan hari ini. Tak
terasa ternyata sudah sore dan hari mulai petang. Angin berhembus
bersama keinginannya. Menyisir padang gersang ini dan menerbangkan
debu emasnya. Yang kuharap juga turut menerbangkan keserakahan
manusia. Hingga alam tak marah lagi. Dan yang tersisa kini hanya sepi
dan sunyi.
Bunga kecil jingga
melambai, bersama kesedihan dan kepedihannya...
SELESAI



