Selasa, 14 Februari 2017

Sesak Hati Pohon Willow - Part 4

Sesak Hati Pohon Willow - Part 4


Di mana aku ?” sepertinya tadi aku benar – benar pingsan, ataukah aku hanya ketiduran. “Sekilas tadi aku melihat makhluk yang menakutkan, apa cuma mimpi ?”. Kutegakkan badanku, kubangunkan dari rebahanku. Kuperiksa tubuhku, ternyata masih utuh. Haha.
Sudah bangun ?” sebuah suara serak lantang mengagetkanku. Kutengok sebelah kanan, asal suara itu. Betapa kagetnya aku, sesosok makhluk besar tengah duduk di sampingku. Besar sekali. Ternyata bukan mimpi. Tingginya mungkin sekitar 5 meter. Dia terbuat dari kayu. Mungkin bangsa Ent. Seperti di cerita mitos, yaitu makhluk hutan yang berwujud pohon. Wajahnya agak menyeramkan. Berjenggot, dan terlihat tua.
Siapa kau ?” tanyaku sedikit ketakutan.
Namaku Ern Willow.” Jawabnya. “Maaf jika menakutkanmu. Sebenarnya apa yang kau cari di hutan ini ? wahai manusia perusak alam.”
Apa maksudmu dengan perusak alam ? Aku bukanlah perusak, aku ke sini hanya ingin mengetahui asal auman yang selalu kudengar setiap hari dan misteri hutan ini.”
Semua manusia itu sama saja. Tidak bisa menghargai alam. Untuk apa aku percaya padamu.”
Ku mohon percayalah, aku ke sini, masuk hutan ini dan membahayakan diriku, hanya karena ingin menjawab semua pertanyaanku yang selama ini menghantui. Ku mohon percayalah.” Aku berusaha meyakinkannya. Kami saling bertatapan. Mata besarnya yang berwarna kuning itu seperti masih menatap sebuah keraguan. Apa yang menyebabkannya seperti itu ? apa yang telah diperbuat manusia terhadapnya ?.
Baiklah kalau begitu.” Sepertinya dia percaya. “Lihatlah ke sana.” Tangan besarnya menunjuk ke sesuatu. Kuarahkan saja langsung pandanganku ke arah yang ditunjuknya.
Wow, indah sekali.” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Betapa menakjubkannya yang kulihat. Sejauh mata memandang, di depanku, ada danau yang begitu luas. Di sekelilingnya terdapat muara yang mengarah ke sungai – sungai yang mengalir ke seluruh penjuru hutan. Mungkin danau ini adalah pusatnya. Sungguh menakjubkan.
Di tengah – tengah danau ini terdapat pohon yang besar sekali. Rantingnya tumbuh menjalar sekeliling danau yang menyebabkan lebatnya dedaunan melindungi danau itu dari sinar matahari. Dasar danaunya bukan tanah ataupun akar, melainkan hitam pekat.
Danau apakah ini ? kenapa tidak terlihat dasar danaunya ?” tanyaku pada Ern.
Ini adalah Danau Harapan.” Jawabnya. “Danau inilah yang menjadi pusat energi hutan ini. Dan pohon itu, adalah Pohon Kehidupan. Jantung Hutan. Pohon yang menopang kehidupan hutan. Disebut juga sebagai Elder Willow. Dasar danau ini tidak berdasar. Di bawah genangan air ini yang ada hanyalah ruang hampa. Sekali kau jatuh maka kau akan mati. Dan auman yang kau tanyakan itu, sebenarnya bukanlah berasal dari hewan ataupun bangsaku, bangsa Ent. Melainkan dari angin yang berasal dari ruang hampa itu.”
Angin ? dari ruang hampa ? bagaimana bisa ? angin itu tidak bisa menembus partikel padat. Termasuk air.”
Memang tidak masuk akal, terserah kalau tidak percaya, tapi memang begitu adanya. Coba lihat, danau itu mulai bergemericik, sebentar lagi akan terjadi angin hembusan. Sebaiknya kau berpegang pada akar – akar itu atau padaku. Jika tak ingin terbang.” Kuperhatikan permukaan air, memang sedang bergemericik.
Semakin keras saja. Seperti ada yang mendorong mereka. Tiba – tiba angin kencang datang dari bawah danau. Itu benar, dan air tidak ada yang terangkat sedikit pun. Selang beberapa detik kemudian angin itu berhembus menyebar. Termasuk ke arahku. Aku hampir terbawa hingga terbang, untung saja aku segera berpegangan pada Ern. Bersamaan dengan itu, suara auman itu juga muncul, bahkan lebih, lebih, dan lebih keras dari sebelumnya. Telingaku sampai hampir sakit.
Ini adalah suara kesedihan hutan.” Tukasnya dengan wajah sedikit murung.
Kesedihan ?” sahutku “Kenapa kau bisa mengatakan seperti itu ?”
Ini semua karena manusia. Mereka selalu merusak alam, tak peduli apapun itu. Hutan, sungai, laut, pegunungan dan panorama alam lainnya. Penebangan liar mereka lakukan. Sampah di sungai juga tak terhitung. Limbah di lautan juga berliter – liter. Apakah kalian tidak memikirkan perasaan alam ini ? Alam yang senantiasa memberikan kalian sumber kehidupan.”
Sebegitu bencikah kau terhadap manusia ?”
Iya, karena ulah kalian, kami juga menderita, bahkan lebih menderita. Penebangan hutan menyebabkan kebakaran yang juga membakar keturunan kami. Tanah longsor yang menghancurkan tempat kami berpijak. Sampah juga akan menyebabkan banjir di mana – mana. Yang juga bisa menghancurkan masa depan jenis kalian. Dan ketika alam sudah rusak, kalian para manusia pasti akan mengeluh kepada Tuhan. Apakah KALIAN tidak punya rasa TERIMA KASIH ataupun PENYESALAN ?!?” perkataannya menusukku sebagai manusia.
Saat alam mulai marah,” dia melanjutkan, “Tiada dari kalian yang dapat menghentikannya. Tiada dari kalian yang sanggup menghadapinya. Ini adalah hukuman. Hukuman.” Ocehannya terhenti. Sejenak suasana menjadi hening. Semua pernyataannya menjadi renunganku.
Kami para manusia, “ sahutku, “Memang sangat bergantung kepada alam. Tanpa kalian, kami tidak akan pernah bisa hidup. Berkat kalian, kami bisa hidup hingga abad ini. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, Terima Kasih.
Memang, beberapa dari kami, lebih mementingkan keserakahan dan keegoisannya serta tak memperhatikan alam sama sekali. Namun, itu hanya sebagian kecil dan tidak semuanya.”
Itulah kenapa aku benci manusia. Dan sampai kapanpun, kalian tidak akan pernah berubah. Mungkin kau memang orang baik, tapi apakah dengan kebaikanmu saja bisa mengubah semua keburukan manusia di dunia ? Mustahil.” Perkataannya membuatku diam. “Belum tentu seseorang dengan moral mulia dapat mengubah moral seseorang 180 derajat. Itulah yang kupahami tentang manusia. Oleh sebab itu aku harus melindungi hutan ini.”
Aku baru mengerti. Itulah rasa bencimu terhadap kami. Sudah jelas semua sekarang.” Begitulah pikirku. Semua pertanyaanku sepertinya sudah terjawab. Hutan ini menyimpan kesedihan dan kepedihan alam, yang mana itu disebabkan oleh kita, manusia.
Kau harus segera meniggalkan hutan ini.” Perkataannya memecahkan lamunanku.
Pergi ? sekarang ?”
Benar”
Apakah aku bisa bertemu denganmu lagi ?”
Tidak, dan takkan pernah. Karena ini akan menjadi kunjungan terakhirmu.”
Apa kau tidak khawatir aku akan membocorkan rahasia hutan ini ?”
Tidak, karena aku tahu kau bukan orang yang seperti itu.” Aku tersenyum, karena sepertinya dia percaya padaku.
Sekarang pejamkan matamu.”
Tunggu, satu pertanyaan lagi.” Kuhentikan yang akan dilakukannya.
Baiklah, apa ?”
3 tahun silam, ada sekelompok penebang kayu yang memasuki hutan. Dan sejak saat itu mereka menghilang sampai saat ini. Apakah mereka dimakan binatang buas hutan ini atau bangsa kalian menyerang mereka ?”
Hmm. Inilah manusia, penuh kecurigaan terhadap alam. Pertama – tama, kami bukanlah bangsa barbar seperti kalian.” Jawabnya, “Kami tidak akan menyerang siapapun, termasuk manusia. Kedua, di sini sama sekali tidak ada binatangnya, meski ini adalah hutan. Dan para penebang itu meninggal karena tersesat dan kelaparan. Jasad mereka terkubur di bawah tumpukan akar pepohonan.”
Tak bisa dipercaya, jadi seperti itu” terangku, “Ternyata kalian memang makhluk yang baik, Ern. Baiklah, kalau memang aku harus pergi, inilah saatnya. Selamat tinggal. Sejujurnya aku masih ingin bertemu denganmu lagi.”
Itulah hal terakhir perbincangan antara kami berdua. Kupejamkan mataku sesuai permintaannya. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Tiba – tiba berhembus semilir angin dari arah samping. Selang beberapa detik kemudian kubuka kedua mataku. Aku melihat sesuatu yang tidak asing lagi. Tembok pembatas abu – abu. Ternyata aku sudah berada di luar hutan. Menoleh ke belakang, hanya gelap yang terlihat. Hatiku cukup lega, karena berhasil keluar hutan dengan selamat. Kuharap aku bisa bertemu dengannya lagi, Ern Willow. Dia adalah sosok pemerhati alam sejati.
Matahari juga mulai menutup hari, mengiringi langkahku menutup petualangan hari ini. Tak terasa ternyata sudah sore dan hari mulai petang. Angin berhembus bersama keinginannya. Menyisir padang gersang ini dan menerbangkan debu emasnya. Yang kuharap juga turut menerbangkan keserakahan manusia. Hingga alam tak marah lagi. Dan yang tersisa kini hanya sepi dan sunyi.
Bunga kecil jingga melambai, bersama kesedihan dan kepedihannya...

SELESAI

Sesak Hati Pohon Willow - Part 3

Sesak Hati Pohon Willow - Part 3


Pagi telah datang kembali. Angin pagi ini pun juga masih semilir kencang dan semakin kencang. Setiap harinya, aku tak bisa lepas memikirkan hutan itu. Dan hari ini kusigapkan hatiku dan seluruh jiwaku untuk menelisik hutan lebat tersebut. Aku sudah tak peduli bahaya apa yang akan kutemui. Peralatan, bekal dan segala persiapan sudah kusiapkan dengan matang. Kini saatnya bagiku menguak misteri pedalaman Hutan Lebat Raksasa.
Masih pagi buta.” Gumamku saat melihat jam tanganku ternyata masih menunjukkan sekitar habis subuh. Aku memang sengaja pergi di jam segitu supaya tidak ada orang yang tahu. Langsung ku pergi menuju dinding belakang rumah. Cukup tinggi memang. Kira – kira sekitar 5 meter. Warnanya abu – abu pucat.
Kulemparkan tali ke atas dinding. 3 kali gagal dan berhasil di percobaan keempat. Kait-nya menyangkut di sesuatu. Tanpa melihat jam, aku langsung memanjat dinding dengan cepat, bak tupai. Beberapa menit kemudian sampailah aku di atas dinding. Lumayan tinggi juga. Aku melihat ke bawah, belakangku ada tanah pekarangan rumah, depanku ada tanah kuning padang gersang. Kenapa tanahnya kuning ? apakah begitu sangat gersang ? Tak kupedulikan. Segera kugulung talinya dan kupasang untuk jalanku turun.
Setelah berhasil mendarat di tanah dan menggulung tali itu, kulanjutkan perjalananku menuju ke hutan. Tanah padang ini cukup gersang, kering dan keras sekali. Warnanya kuning pucat. Sepertinya tanah ini mengandung kesedihan dan kekecewaan yang begitu dalam. Hingga air mata mereka habis dan akhirnya mengering pucat. Kulihat padang sekelilingku, semuanya sama. Sejauh mata memandang hanya tanah kuning kering terlihat dan hamparan hijau lebat hutan. Mulut hutan masih tampak jauh. Entah sudah beberapa langkah kakiku. Tak kuhitung.
10 langkah lagi aku sampai di mulut hutan. Sekitar 45 menit sudah aku sampai di mulut hutan. Dari dekat ternyata hutan ini tampak menakutkan. Pohonnya besar – besar. Tingginya kira – kira sekitar 20 meter lebih. Diameternya benar, lebih dari 2 meter. Dan kulit kayunya hijau gelap berlumut. Tebal sekali lumutnya. Daunnya juga begitu lebat, aku sampai tak melihat ujung – ujung dedaunan masing – masing pohon. Sejauh aku memandang ke dalam hutan, yang kulihat hanyalah kegelapan.
Aku masih berdiri di mulut hutan. Kakiku serasa tak mau melangkah masuk. Masih teringat diriku mengenai perkataan Pak Jaka bahwa teman – temannya menghilang saat mencoba memasuki hutan ini. Dalam hatiku masih merasa khawatir. Benarkah tidak apa – apa ? Apakah aku akan selamat ? ataukah ikut menghilang seperti penebang hutan 3 tahun silam ?. Pertanyaan – pertanyaan itu terus menggerogoti keinginanku. Kumantapkan saja hatiku untuk maju dan mendorong kaki ini untuk memasukki hutan. Mengenai hal yang selanjutnya terjadi pikirkan nanti saja.
Gelapnya.....” gumamku menatap hutan.
Kunyalakan lampu senterku. Kakiku mulai melangkah masuk menelusuri hutan. Menakutkan sekali. Sekelilingku yang terlihat hanyalah pohon dan pohon. Tanahnya lumayan gembur, karena humus mungkin. Akarnya juga besar sekali. Semakin dalam aku memasuki hutan juga hanya pohon Willow yang terlihat. Apakah di hutan ini tidak ada hewan buas satu pun ?. Karena aneh menurutku, di hutan semenyeramkan ini tak ada hewan apapun.
Semakin dalam aku menelusuri hutan. Semakin gelap pula jalan yang kutempuh. Lebatnya dedaunan menghalangi sinar matahari masuk menelisik hutan. Kuperhatikan sekeliling juga masih sama. Gelap. Yang kutahu, akar – akar pepohonan ini menjalar masuk jauh ke dalam hutan. Semuanya mengarah ke satu arah. Semua akar pepohonan ini. Akar inilah yang menuntunku masuk menuju hutan. Kutengok ke belakang, sudah gelap, dan di depan pun juga masih gelap. Tak lama kemudian tanahnya mulai becek, berair, sepertinya di depan ada sumber air. Aku bergegas melangkah maju menelusuri arah akar pepohonan. Dan tak bisa kubayangkan, tak bisa kuungkapkan apa yang aku lihat. Sebuah sungai membentang luas memanjang. Lebarnya mungkin sekitar 10 meter.
Tak percaya ada sungai yang begitu luas di tengah hutan. Dedaunan pohon di sini menutupinya dari cahaya matahari, sehingga mungkin sungai ini tak dapat terlihat dari udara. Tapi anehnya, meski tiada cahaya, sungai ini tampak begitu jernih. Kupikir, sungai ini sangat dalam. Karena aku tak melihat tanah di dasar sungainya. Hanya sekumpulan akar pohon yang saling berkaitan. Sungai itu begitu jernih dan bening, sampai dapat memperlihatkan warna hijau dari akar pohon. Rasanya pun begitu segar saat mencicipinya. Kuhentikan sejenak perjalananku di tepi sungai. Sejenak melepas lelah, dan menghilangkan rasa lapar.
Mungkin ini penyebabnya.” Gumamku sendirian. “Sungai inilah yang menyuplai air untuk pohon – pohon di hutan ini. Di samping mendapat cahaya matahari dan unsur hara, mereka juga mendapat kesegaran serta nutrisi mineral dari sungai ini. Sepertinya sungai ini sudah terbentuk sejak beberapa ratus tahun silam, terlihat dari akar – akar pohon ini. Tapi, kenapa panorama seindah ini menjadi hal yang menakutkan ? Hmm...” aku melihat sekeliling.”Dan tiada satu jejak pun mengenai tanda – tanda manusia pernah ke sini.”
Tiba – tiba angin berhembus kencang. Aku sampai hampir ambruk. Rambutku berantakan dan makananku terbang ke mana – mana. Bersamaan dengan itu juga, suara auman itu muncul. ‘Aaaaarrrrrghhhh......’ kira – kira seperti itu. Datangnya dari sebelah kananku. Suaranya sangat keras dan jelas sekali. Sebenarnya suara apa itu. Atau suara siapakah itu sebenarnya. Kubereskan semua perbekalanku. Ingin kucari sumber suara itu. Aku bergegas. Namun, saat ku berbalik badan, ada batang pohon berdiri di belakangku. Seingatku tadi di belakang tidak ada apa – apa. Apa pohon ini berjalan, kuperhatikan seksama, batang pohon ini tidak sebesar pohon yang lainnya. Dia tampak berbeda dan warnanya agak terang, meski tidak bisa dibilang hijau muda. Akarnya juga keluar dari tanah, tidak tertancap. Kuarahkan pandanganku ke atas. Semakin ke atas, betapa mengejutkan. Pohon ini bergerak. Sebuah wajah mirip orang tua berjenggot menghadap ke bawah. Besar sekali. Dengan mata kuningnya dia menatap ke arahku. Semakin dekat, dekat, dekat. Kakiku tak bisa bergerak. Seperti terpaku. Berteriak pun tak bisa. Pandanganku mulai kabur, gelap, sepertinya aku akan pingsan. Di tempat seperti ini. Di depan makhluk asing yang menatapku.
***---***
Berlanjut ke Part 4-->

Sesak Hati Pohon Willow - Part 2

Sesak Hati Pohon Willow - Part 2


Dua blok rumah tak terasa telah berlalu. Sampailah kami di depan rumah si Bapak itu. Kami berhenti di depan rumah yang terlihat tua. Tampak dari tiang dan temboknya yang termakan usia. Rayap yang bergelantungan. Bekas air di tembok, dan sepertinya bapak ini pekerjaannya adalah tukang kayu. Karena banyak sekali bekas serutan kayu berserakan dimana – mana. Dan peralatan tukang kayu kebanyakan begitu lengkap tergantung di tembok.
Gelondongan kayu besar itu segera kami singkirkan dari gerobak. Lumayan juga. Sedikit menguras tenaga, hitung – hitung pengorbanan untuk mengerti mengenai hutan itu. Tapi, apakah aku terlalu mengharapkan informasi itu kepada Bapak ini ? Aku saja tidak tahu namanya siapa.
Terima Kasih ya, mas. Sudah mau bantuin Bapak.” Bapak itu mengawali percakapan, yang telah diketahui namanya adalah Pak Jaka. Tertulis di depan pintunya.
Tidak apa – apa, pak.” Kujawab.
Ngomong – ngomong ..” Dengan keyakinan penuh. “Apakah bapak mendapatkan gelondongan kayu – kayu ini dari Hutan itu ?”
Hutan ? maksudnya ?”
Hutan Lebat Raksasa.” Ekspresi Pak Jaka agak sedikit tercengang. Kaget, ketika aku mengucapkan nama hutan itu. Apakah benar dia mengetahui tentang hutan itu ?.
Tidak, mas Dimas. Bahkan saya tidak tahu mengenai hutan tersebut.” Dia langsung menyangkalnya. Namun aku melihat di wajahnya, bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Oh begitu.” Jawabku lesu.
Saya mengambil kayu ini dari desa sebelah. Terlihat tekstur kayunya juga sudah berbeda.” Dia menjelaskan sambil menunjuk ke gelondongan kayu yang terbaring di samping tempat dudukku. “Kayu ini tekstur kulitnya kasar berwarna coklat tua gelap, diameternya juga sekitar antara 0,5 – 1 meter. Sedangkan hutan itu memiliki tekstur kulit hijau gelap berlumut, dengan diameter lebih dari 2 meter, daunnya lebat dan eh..” dia tak melanjutkan.
Tunggu sebentar, pak. Sepertinya Bapak tahu banyak.” Begitu yang kukatakan. “Sepertinya Bapak tahu sekali mengenai Hutan Lebat Raksasa itu, terlihat dari anda yang menjelaskan sekilas mengenai keadaan pohon yang ada di sana.”
Pak Jaka terlihat sedikit bingung. Entah dia karena berada dalam posisi tertekan atau karena ada rahasia dari Hutan Lebat Raksasa yang tidak bisa dia beberkan ?. Semua itu hanya menunggu beberapa detik bagiku. Karena aku tidak salah. Aku yakin, Pak Jaka tahu sedikit banyak mengenai hutan itu. Dia masih terlihat berkeringat. Karena siang ini cuacanya memang cukup panas. Tapi kami berada di tempat teduh di rumahnya. Keringat itu adalah keringat dingin.
Pak Jaka duduk di sampingku. Di bangkunya yang juga sedang aku duduki. Dilepasnya topi mungil yang melindungi kepalanya sedari tadi. Dia menghela nafas.
Mungkin aku memang harus menceritakan ini.” Dia memulai, setelah sejenak mengalami keheningan. “Sebenarnya aku pernah ke hutan itu.”
Pernah ke Hutan ??!” Sontak aku kaget mendengar itu.
Dulu, sekitar 3 tahun yang lalu, kami para tukang kayu disewa untuk mencari kayu dalam sebuah proyek besar. Proyek ini diberikan atas nama perusahaan meubel tersohor. Dan mereka meminta jenis kayu yang terbaik.” Aku mendengarkan dengan seksama. Pak Jaka melanjutkan.
Setahu kami ada Hutan Lebat yang jenis kayunya itu terbaik, menurut beberapa kalangan. Yaitu Hutan Lebat Raksasa. Pohon yang tumbuh di hutan tersebut hanya satu jenis saja. Tak lain dan tak bukan adalah pohon Willow. Pohon Willow merupakan pohon yang telah hidup sejak zaman sebelum dinosaurus hingga sekarang. Disebut juga pohon hidup, karena mereka tak pernah layu meski berada di tengah padang gersang seperti hutan yang di belakang tembok pembatas itu.” Dia menunjuk tembok tinggi berwarna abu – abu itu, yang sebenarnya dia sedang menunjuk ke arah hutan. “Hingga terjadinya insiden itu.”
Insiden.... ??!?!” Sejenak suasana hening karena satu kata. Insiden.
Pak Jaka mengatakan mengenai sebuah insiden yang terjadi 3 tahun silam. Insiden apakah itu ? apakah ada hubungannya dengan misteri dari hutan itu ?
Selama seminggu kami telah banyak menebang beberapa dari pohon willow tersebut. Memang ku akui pohon willow memiliki komposisi tumbuhan yang sempurna, dan itu yang telah mengotori hati kami. Kami semakin haus akan keindahan kayunya dan salah seorang temanku berkata ...
ayo kita tebang pohon bagian dalam. Semakin dalam hutan, kayu pohonnya semakin bagus. Dan semakin bagus kualitas yang kita bawa, semakin besar honor kita pula. Hahaha.’
Entah itu benar atau tidak tapi menurutku itu salah. Selama ini kami memang menebang pohon yang ada di bagian luar hutan saja. Tapi jika masuk ke dalam, aku merasakan perasaan aneh. Dan sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi.”
Pak Jaka menggenggam kedua tangannya. Dia tampak ketakutan ketika bercerita. Terlihat dari raut wajahnya. Sepertinya sesuatu yang buruk memang telah terjadi saat itu. Hal itu semakin membuatku menjadi penasaran.
Dan akhirnya mereka masuk ke dalam hutan. Aku mengatakan kepada mereka kalau aku tidak ikut masuk. Aku akan menjaga barang – barang yang mereka tinggal. Mereka hanya meng-iya-kan ucapanku. Mungkin di hatinya mereka mengataiku pengecut. Tapi tak apalah.
Saat itu masih pagi, matahari pun juga belum terlalu tinggi. Mungkin masih sekitar jam 9. Tapi rasanya lama sekali. Hingga beberapa jam kemudian, mereka belum juga kembali. Matahari sudah mulai menutup hari. Sepertinya terjadi sesuatu dengan mereka. Aku ingin menyusul, tapi hari sudah gelap. Akhirnya kuputuskan untuk pulang. Namun keesokan harinya, tetap tiada kabar dari mereka. Kuhubungi keluarganya untuk memastikan keadaan. Mereka juga mengatakan belum pulang, Sejak saat itu sampai sekarang aku masih belum mendengar kabar teman sepekerjaanku. Itulah terakhir kalinya aku mengunjungi hutan itu dan meninggalkannya.
Dan hal terakhir yang sempat terdengar olehku, adalah suara auman menakutkan yang menggema dari dalam hutan.”
Kalimat itu mengakhiri ceritanya, sekaligus perbincangan kami. Dalam perjalanan pulang, aku semakin kepikiran hutan itu terus. Sebenarnya ada apa di dalam hutan itu, hingga terjadi kasus kehilangan. Menyembunyikan misteri apakah ia. Pertanyaanku hanya masih menggantung bersama tanda tanya.
Malam semakin larut. Tak terasa jam telah berdentang 12 kali. Sudah tengah malam ternyata. Mata ini tetap tak bisa terpejam. Ku tengok ke luar jendela. Ranting – ranting pohon menari di tengah bersama hembusan angin. Anginnya cukup kencang, soalnya lambaian dedaunan itu tak menunjukkan betapa pelannya sang angin. Jalanan di luar cukup sepi. Kini hanya kesunyian dan keheningan di malam ini. Di tengah kesunyian itu, terdengar lagi auman dari belakang rumah. Tepatnya dari hutan. Auman itu semakin keras dari biasanya dan semakin sering terdengar. Ynag kuherankan, apakah penduduk sini tidak mengetahuinya ataukah tidak mau tau ?
***---***
Berlanjut ke Part 3-->

Sesak Hati Pohon Willow - Part 1

Sesak Hati Pohon Willow - Part 1



Terdengar lagi. Suara geraman menakutkan kembali ku dengar dari belakang rumah. Suara itu mengaum di sela – sela pepohonan. Melintas bersama angin kencang. Menyisir dedaunan hijau yang lebat itu. Tampak menakutkan, memang. Tak heran, belakang rumahku adalah hamparan hutan lebat raksasa. Dengan pohon – pohon besar terhampar berkilo – kilometer.
Rumahku berada di suatu pedesaan kecil di ujung perbatasan negara. Kiri kanan hanya tampak deretan rumah berjejer, bak prajurit kolonial tengah berbaris tegap. Aku Dimas, tinggal di rumah paling ujung Barat. Bangunan yang tampak seram. Seperti wajah penyihir tua yang menatap siap melahap siapa saja yang mendekat. Terkadang aku juga takut masuk rumah sendiri, atau lebih tepatnya rumah kakekku. Dan yang paling menyeramkan adalah belakang rumah. Dijaga oleh tembok kokoh besar berdiri membeku. Seakan melindungi rumahku dari apa yang ada dibaliknya. Yaitu Hutan Lebat Raksasa yang dipisahkan oleh padang gersang yang begitu lebar.
Aku pindah ke rumah ini, rumah Kakekku di desa terpencil di negeri Hijau, sejak bulan Juni kemarin. Dahulu aku tinggal bersama orang tuaku di sebuah kota yang indah, di negeri Musim Gugur. Semenjak insiden menyeramkan beberapa bulan lalu, yang terjadi tepat di daerah ku tinggal, aku mulai pindah ke sini. Insiden bencana alam itu menelan berjuta – juta jiwa. Termasuk orang tuaku yang meninggal di rumah akibat kebakaran hebat. Beserta banjir bandang dan angin topan yang memporak – porandakan muka negara. Aku selamat. Karena keajaiban atau apa aku juga tak tahu. Dan singkat cerita akhirnya aku sampai di Negara ini. Hal pertama yang aku lihat dari Negara ini adalah hutan itu. Begitu jelas.
Pertama melihatnya, hutan lebat itu, pernah timbul pertanyaan dalam benakku. Kapankah hutan itu ada ? Dan bagaimana bisa terbentuk sebegitu luas dan besar sedangkan sekelilingnya hanya padang gersang ? Sampai kini pun belum terjawab. Dan kapankah akan terjawab ? Mungkin saat aku masuk ke hutan itu. Apakah bisa ? Entah.
***---***
Embun mulai menetes dari ujung dedaunan hijau. Rumput pun tampak basah. Sepertinya semalam gerimis, karena ku tak mendengar suara deras hujan malam itu. Suasana pagi ini begitu indah. Bunga – bunga mulai mekar. Burung – burung bernyanyi dan berkicau. Terbang ke sana kemari. Menyambut awal musim ini.
Ternyata sudah musim semi. Cocok untuk negeri yang hijau.”
Seperti biasanya, pagi ini pun juga cukup hening. Meski bukan berarti sepi. Banyak juga orang – orang berkeliaran di jalanan. Namun mereka terlihat bungkam dalam kata. Diam dalam tempurung. Ditolak keramaian. Ataukah ini hanya perasaanku saja, ataukah memang penduduk di perkampungan ini seperti ini. Pun, aku yang sudah menetap berbulan – bulan masih tidak mengerti mereka.
Yang ku tahu hanya satu. Di tengah keheningan itu, selalu hutan lebat itu yang terbayang. Seakan ada kekuatan yang menarikku.”
Mungkin percuma memikirkan semua itu. Memikirkan hutan yang belum tentu kejelasannya. Sudahlah.....
Pagi ini kuhabiskan waktuku dengan duduk di teras rumah. Duduk di kursi kayu yang berbau khas. Ditemani secangkir Apple Tea dan sepiring roti panggang. Menikmati indahnya musim semi di pagi hari. Menanti habisnya tetes embun di dedaunan...
Permisi, bisa tolong ambilkan bolanya, Kak ?” Suara seorang anak memecah konsentrasiku saat membaca Novel.
Iya, baiklah”, Memang tadi aku sempat mendengar bunyi ‘Duk !’. Segera kuhampiri bola itu dan kuberikan ke bocah laki – laki umur 10 tahun itu.
Terima Kasih” jawabnya. Dan berlalu menuju teman – temannya.
Aku ingin melanjutkan membaca Novel lagi. Sambil menikmati hembusan pagi hari. Namun saat ku baru saja menoleh, dari kejauhan, ku lihat ada seorang bapak paruh baya tengah membawa sesuatu di atas gerobak yang ditariknya. Apa itu ? wujudnya masih samar. Yang terlihat hanya baju lusuh si Bapak dan uban putihnya yang tertutup topi coklat. Kutunggu saja, di tempatku berdiri. Sepertinya bapak itu akan lewat sini. Soalnya tikungan terakhir sudah dilewatinya. Dan jalan satu – satunya adalah lewat depan rumahku. Lambat laun, bapak itu mulai mendekat. Masih dengan gerobaknya. Yang perlahan – lahan mulai tampak apa itu yang tengah dibawanya.
Warnanya coklat kehitaman. Teksturnya terlihat kuat. Bentuknya juga besar, sepertinya sesuatu yang kokoh. Dan saat si Bapak mendekat, baru dapat kusimpulkan benda apa itu. Ternyata gelondongan kayu. Besar sekali ya ?! pikirku. Karena memang ukuran yang ditarik bapak itu tidak bisa dibilang kecil dan enteng. Jika diukur, mungkin diameternya sepanjang lenganku. Dan panjangnya sekitar 1,5 meter. Di sini aku penasaran. Apakah bapak ini mengambil kayu dari hutan ?? Hutan Lebat Raksasa.
Permisi , pak.” Kuhentikan langkah bapak itu saat melintas di depanku. Heran bagiku. Betapa besarnya kayu itu ternyata saat kulihat dekat sekali. Betapa kuatnya tenaga bapak 35 tahun itu menarik kayu – kayu sebesar ini. Tubuhnya memang tidak besar. Namun cukup berisi.
Ada apa, mas ?” Tanya bapak itu heran, sambil mengelap peluhnya yang mengalir deras di dahinya yang berwarna sawo matang. Wajahnya masih penuh tanda tanya. Heran, karena orang asing yang tidak dikenalnya tengah menghentikan langkah kakinya.
Anu...” aku hendak menjawab. Namun pikirku, apakah pantas menanyakan tentang hutan itu di tengah kecapekan seorang bapak ini ?. Aku seperti orang jahat saja. Yang mengganggu kesibukan orang di tengah kenyamanannya menikmati kesibukan, lalu aku, yang merupakan orang asing baginya, datang mengganggu.
Boleh saya bantu, pak ? sepertinya bapak capek sekali.” Akhirnya aku malah menawarkan bantuan.
Tidak usah mas, saya bisa sendiri.”
Tidak apa – apa pak, lagian saya juga lagi nggak ngapa – ngapain.”
Ya, sudah kalau begitu. Terima Kasih.” Dan akhirnya aku pun membantu bapak paruh baya itu dengan ikut mendorong gerobaknya. Sepanjang perjalanan. Sebanyak kaki ini melangkah.
***---***
Berlanjut ke Part 2-->